BeritaBlog

Street Feeding Cara AKP Dwi Belajar Ikhlas Melalui Kucing

×

Street Feeding Cara AKP Dwi Belajar Ikhlas Melalui Kucing

Sebarkan artikel ini
Kanit PPA Satreskrim Polresta Cirebon AKP Sujiani Dwi Hartati saat melakukan street feeding di tempat pembuangan sampah, Penggung, Kota Cirebon. Rabu (27/3/2024). Foto: Arum/Cirebonevent.com

Cirebon- Kucing liar di sebagian mata orang mungkin terlihat sebagai hama pengganggu, namun berbeda dengan AKP Sujiani Dwi Hartati yang melihat kucing liar sebagai mahkluk hidup yang membutuhkan kasih sayang selayaknya manusia.

Mengemban tanggung jawab sebagai Kepala Unit (Kanit) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Cirebon tak membuat AKP Dwi hanya berkutat pada tugas utamanya.

Polisi Wanita (Polwan) berdarah Daerah Istimewa Yogyakarta ini beranggapan street feeding atau memberi makan kucing liar merupakan salah satu cara dirinya untuk belajar ikhlas.

“Memberi makan kucing itu kaya cara belajar buat ikhlas, ngga ada yang kita harapkan dari mereka kaya kita memberi ke manusia, yang kita cuma inginkan ya mereka bisa makan dan nggak kelaperan,” tutur Dwi, Rabu (27/3/2024).

Nyaris belasan tahun Dwi menyisihkan penghasilannya sebagai polisi untuk dipergunakan memberi makan kucing liar, dimulai dari yang ada di lingkungan rumahnya hingga puluhan kucing liar yang selalu ditemuinya setiap berangkat kerja.

“Awalnya di rumah dulu, pas dulu tugas di Indramayu itu sampai ratusan (kucing) awalnya ngasih makan rutin, pada dateng, saya urus kemudian makin banyak dan ada beberapa orang yang adopsi juga (dari Dwi),” ujarnya.

“Kemudian, pas pindah tugas di Cirebon saya fikir sekalian kasih makan kucing sembari berangkat setiap hari,” imbuhnya.

Bukan lagi hewan, Dwi mengaku kucing sudah seperti anak kecil di matanya yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

“Udah kaya anak sendiri lucu, mereka bisa ngerti kita ngomong apa saya juga sering ngobrol sama kucing di rumah juga yang liar,” akunya.

Kanit PPA Satreskrim Polresta Cirebon AKP Sujiani Dwi Hartati saat berinteraksi memeluk kucing domestik di ruang kantornya Rabu (27/3/2024). Foto: Arum/Cirebonevent.com.

Jika ditarik mundur beberapa tahun ke belakang yakni sekitar tahun 90an, cerita singkat awal mula Dwi menyukai bahkan bisa dikatakan mencintai kucing bermula dari ketidaksengajaan.

“Nggak sengaja, dulu itu awalnya ada kucing kitten (anakan kucing) saya kasih makan, setelah dikasih makan itu masuk ke rumah, saya keluarin lagi, dia masuk lagi, terus begitu sampe tiga kali, saya kira itu dia masih lapar atau apa ternyata dia pengen tinggal bareng,” terangnya.

Tak diambil pusing, kala itu Dwi memperbolehkan anak bulu itu masuk dalam kehidupannya untuk kemudian dimandi hingga diurus layaknya anak sendiri.

“Mandiin, dan habis dimandiin dikeringkan pakai hair dryer, ko lucu kecil gitu tidur, waktu itu saya kasih nama dia Oneng kucing kampung dia,” tuturnya.

Beruntungnya sang suami juga menyukai kucing sehingga, tidak menimbulkan perdebatan atau kontra perihal datangnya mahkluk menggemaskan di kehidupan keduanya.

“Alhamdulillah suami suka kucing juga, akhirnya kami bareng-bareng ngerawat kucing yang ada,” celetuknya.

Bak sudah terhipnotis oleh kucing yang datang dalam kehidupannya, setiap kali Dwi menemukan kucing liar saat itu juga dirinya memberi makan kucing tersebut. Hingga suatu ketika Dwi kembali bertemu kucing kecil di sebuah tempat kumuh yakni Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

“Ada kucing di tempat pembuangan sampah waktu itu saya berhenti lihat dia nyamperin pas waktu itu pake seragam dan dia manjat-manjat dari kaki ke atas saya kira dia itu laper aja, ternyata minta ikut akhirnya saya bawa dan urus saya kasih nama Ceri,” Jelasnya.

Sebelum hadir Ceri, kala dirinya masih bertugas di Indramayu pimpinannya rupanya juga menyukai kucing dan memberikan seekor kucing manis berjenis Persia yang diberi nama Miko.

“Pimpinan saya suka kucing, saya ditanya punya kucing ga dan waktu itu saya cuma punya kucing kampung yang si Oneng, akhirnya saya dikasih satu kucing namanya Miko,” ucapnya.

Semakin hari makin bertambah kucing-kucing miliknya hingga saat ini ia memiliki beberapa ekor kucing bernama Nemo, Miko, Amel, Preti, Ceri, Coki, Abu, dan Oneng.

“Ada banyak dulu tapi, sekarang cuma beberapa ekor dan alhamdulillah ras Persia ada Miko sama Miki tapi Miki meninggal terlindas trus itu sedihnya minta ampun saya nggak kuat saya gendong dia walau baju semua penuh darah,” katanya.

Kembali pada masa kini, Dwi mengaku selain menjadi cara belajar ikhlas, street feeding merupakan salah satu cara dia berbagi sedikit kasih sayang dengan kucing liar yang tidak memiliki rumah untuk berlindung apalagi orang yang dapat menyayanginya.

“Ya, street feeding atau bukan yang saya fikir tidak ada salahnya memberikan sentuhan kasih sayang buat mereka yang tidak punya tempat yang kokoh untuk berlindung seperti kucing saya di rumah,” ucapnya.

Berkendara dengan mobil miliknya, Dwi rutin melakukan street feeding sembari berangkat kerja.

Dalam melakukan hobi sosial ini Dwi selalu berangkat setiap pukul 05.30 WIB dari Harjamukti, Kota Cirebon menuju Polresta Cirebon yang berlokasi di Sumber, Kabupaten Cirebon.

Dalam perjalanannya menuju kantor Dwi mengaku sudah hafal betul titik-titik kucing-kucing liar tersebut berkumpul.

“Start jam 05.30 pagi dari depan rumah sudah ada yang nungguin terus jalan yang mau arah permata, terus kebon pelok, tikungan penggung paling banyak kucing, tikungan mau lampu merah penggung, tempat pembuangan sampah penggung, maju dikit dekat jualan empal, terus pertigaan kali tanjung, pasar kali tanjung, dekat lampu merah sumber dan di depan kantor (Unit PPA),” sebutnya.

Kanit PPA Satreskrim Polresta Cirebon AKP Sujiani Dwi Hartati saat melakukan street feeding di tempat pembuangan sampah, Penggung, Kota Cirebon. Rabu (27/3/2024). Foto: Arum/Cirebonevent.com

Meskipun harus menyambangi tempat yang kumuh seperti tempat pembuangan sampah, Dwi menuturkan tidak merasa jijik, terlebih terdapat sejumlah anabul yang harus ditemuinya.

“Tau kotor, tapi nggak jijik, karena liat kucing-kucing lucu yang mereka itu sering dibuang orang rasanya iba dan kasihan,” ujarnya.

Bukan tanpa alasan dirinya berangkat tepat pukul 05.30 WIB pagi, selain menghindari kemacetan, ia belajar bahwa kucing-kucing liar yang ia beri makan sangat paham akan waktu.

“Saya selain hindarin kemacetan itu berangkat pagi sekali karena mereka (kucing) hafal waktu, artinya kalau telat sedikit saja pasti pergi, itu unik mereka itu tepat dan hafal waktu saya kasih makan,” ungkapnya.

Sudah menjadi rutinitas, Dwi menceritakan setiap titik terdapat kucing dengan watak berbeda. Bukannya membandingkan, kendati demikian dia mengaku di areal tikungan Kalitanjung terdapat seekor kucing yang sangat hafal dengan dirinya.

Salah satu kucing domestik yang akrab disapa serta rutin diberi makanan oleh Kanit PPA Satreskrim Polresta Cirebon AKP Sujiani Dwi Hartati di jalanan. Foto: Arum/Cirebonevent.com

“Kucing di titik yang pas belokan itu sudah hafal, kalau saya kesana bawa makanan pasti datang dan ngusel manja,” akunya.

Tak hanya di jalanan, selama bertugas di Mapolresta Cirebon juga, Dwi rutin memberikan makanan kering atau basah bagi kucing yang bernaung atau singgah di kantornya.

“Ada kasih makan biasanya kalau di kantor kemaren yang lama itu suka pada ngantri standby pagi, sekarang disini (kantor baru) juga ada yang suka nunggu, saya kasih juga makanan kucing,” jelas Dwi.

Dalam sehari sendiri Dwi bisa menghabiskan sekitar 3 kilogram makan kucing kering untuk street feeding di jalanan.

“Buat di jalan saja, belum lain-lain kaya di kantor atau rumah, belum wet food (makan basah), dan kalau dibilang setiap hari lebih tepatnya sampai hari Sabtu soalnya Minggu kan libur tidak berangkat,” paparnya.

“dan kalau hujan resikonya ya nunggu reda baru keliling kasih makan,” ucapnya.

Jika di kalkulasikan 3 kilogram perhari maka, Dwi rutin menghabiskan 18 kilogram selama sepekan dan kurang lebih 72 kilogram dalam sebulan atau jika dinominalkan maka mencapai kurang lebih Rp. 1.5 juta.

“Untuk uang saya kira Alhamdulillah ada saja rezekinya, nggak terlalu mikirin karena selama saya ada uang saya pasti sisihkan buat kucing,” ungkapnya.

Sebagai penegak hukum juga sebagai pecinta kucing, Dwi bermimpi kucing-kucing tidak mengalami kekerasan dan memiliki tempat yang layak untuk bernaung.

“Saya pengen sekali kucing itu tidak ada lagi yang tersiksa, saya juga pengen kucing liar itu punya tempat layak untuk bernaung. Tapi meskipun sejauh ini saya cuma bisa kasih makan saja, semoga ada tempat bernaung dan banyak yang menyayangi kucing liar,” harapnya.

Sebagai seorang aparat penegak hukum, Dwi menilai bukan kepada apa atau siapa harus berbuat baik, namun kapan niat baik itu diwujudkan.

“Niat baik atau kegiatan sosial itu kayanya ngga harus sama manusia atau oleh siapa, mau itu polisi, dokter, kaya atau miskin. Juga ga mesti manusia, hewan juga selama mereka membutuhkan mereka layak mendapatkannya karena kan sesama makhluk hidup,” tutupnya.***(Arum).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *